Harapan Tak Pernah Padam di Tengah Lumpur dan Puing
Selama tiga hari berturut-turut, Asep tak beranjak dari lokasi longsor Cisarua. Dengan tangan sendiri, ia ikut menggali tanah dan puing bangunan demi menemukan putrinya yang masih tertimbun material longsor. Di tengah kelelahan dan cuaca yang tak menentu, Asep memilih bertahan, menolak pulang sebelum mendapatkan kepastian.
Longsor yang terjadi akibat hujan deras itu menelan sejumlah korban dan memicu operasi pencarian besar-besaran oleh tim gabungan.
Bertahan di Lokasi Demi Sebuah Kepastian
Asep mengaku sulit meninggalkan lokasi meski tim SAR sudah bekerja maksimal. Ia memilih ikut membantu sebisanya, membersihkan lumpur, memindahkan batu, hingga menyibak sisa bangunan yang runtuh.
Bagi Asep, berada di lokasi adalah satu-satunya cara menjaga harapan agar putrinya bisa ditemukan, apa pun kondisinya.
Baca juga: Indonesia Hasilkan 57 Juta Ton Sampah per Tahun
Baca Juga:Menlu soal Ambisi Trump Kuasai Greenland: RI Non-Blok
Tim SAR Terus Lakukan Penyisiran
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan pencarian dengan alat berat dan manual. Kondisi tanah yang labil menjadi tantangan tersendiri, sehingga proses evakuasi harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Duka yang Menyatukan Warga
Tragedi longsor Cisarua tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menggerakkan solidaritas warga sekitar. Mereka bahu-membahu membantu proses pencarian dan memenuhi kebutuhan logistik, sembari berharap seluruh korban dapat segera ditemukan.